
Kapal Perang China-Rusia Masuki Laut Jepang, Xi Jinping dan Putin Perkuat Aliansi
Radio Senda 1680 – Kapal perang China-Rusia kembali unjuk kekuatan melalui latihan angkatan laut gabungan yang dimulai di Laut Jepang sejak Minggu (3/8/2025). Latihan ini menjadi bagian dari upaya kedua negara untuk memperkuat kemitraan strategis sekaligus menyeimbangkan dominasi tatanan global yang selama ini dipimpin oleh Amerika Serikat (AS).
Mengutip laporan AFP pada Senin (4/8/2025), latihan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Beijing dan Moskow untuk mengukuhkan posisi mereka sebagai kekuatan global alternatif. Kedua negara secara terbuka menyatakan keinginan untuk menghadirkan “tatanan dunia multipolar” yang tak hanya berpusat pada kepemimpinan Barat, khususnya AS.
“Simak Juga: USU dan UPNM Perkuat Sinergi Geopolitik Lewat Forum dan Riset Kolaboratif”
Hubungan China dan Rusia telah berkembang secara signifikan dalam berbagai sektor, mulai dari kerja sama ekonomi hingga kolaborasi militer. Ikatan mereka kian erat sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, di mana China memilih untuk tidak mengecam tindakan Rusia, berbeda dari sikap negara-negara Barat.
Latihan gabungan bertajuk “Laut Bersama-2025” digelar di perairan dekat pelabuhan Vladivostok, Rusia, dan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari. Menurut pernyataan resmi Kementerian Pertahanan China, latihan ini mencakup berbagai operasi strategis, seperti:
Empat kapal angkatan laut China turut serta dalam latihan ini, termasuk dua kapal perusak berpeluru kendali, yakni Shaoxing dan Urumqi. Kapal-kapal tersebut akan beroperasi bersama armada Rusia. Usai latihan, keduanya akan melanjutkan dengan patroli bersama di sejumlah perairan relevan di Samudra Pasifik.
Latihan “Laut Bersama” sendiri bukan hal baru. China dan Rusia telah mengadakannya sejak tahun 2012, dengan lokasi yang bervariasi setiap tahun. Tahun lalu, latihan dilakukan di sepanjang pantai selatan China. Tahun ini, lokasinya bergeser ke Laut Jepang, yang secara geopolitik lebih sensitif.
Kementerian Pertahanan China menyatakan bahwa latihan 2025 ini bertujuan untuk “memperdalam lebih lanjut kemitraan strategis komprehensif” antara kedua negara. Sinyal ini menegaskan keseriusan keduanya dalam memperkuat hubungan militer, meski mendapat sorotan dari negara-negara Barat.
Meski terus mempererat kerja sama dengan Rusia, China tetap menyatakan diri sebagai pihak netral dalam konflik Rusia-Ukraina. Beijing secara rutin menyerukan untuk mengakhiri perang dan menuding negara-negara Barat memperpanjang konflik dengan mengirimkan bantuan militer ke Ukraina.
Namun, banyak analis internasional menilai bahwa sikap China sejauh ini lebih menguntungkan Rusia. Beberapa negara Barat, termasuk AS, bahkan menuding China telah memberikan dukungan tidak langsung kepada Moskow, meskipun tidak secara terbuka memasok senjata.
Latihan “Laut Bersama-2025” menjadi sinyal nyata bahwa hubungan militer China dan Rusia semakin dalam dan strategis, sekaligus memperkuat posisi mereka di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
“Baca Juga: Darurat! BPOM Tarik 34 Produk Kosmetik Berbahaya, Picu Masalah Ginjal hingga Kanker”
Radio Senda 1680 - Data terbaru dari Asosiasi Radio Komunitas Indonesia tahun 2024 menyebutkan bahwa segmen dialog interaktif mampu meningkatkan…
Radio Senda 1680 - Di tengah deru kehidupan modern yang nyaris tanpa jeda, sebuah fakta mengejutkan muncul dari riset Gallup…
Radio Senda 1680 - Di balik frekuensi AM 1680 yang sederhana, ribuan keluarga di pelosok kampung mulai hari mereka bukan…
Radio Senda 1680 - Di tengah derasnya arus digitalisasi dan dominasi platform musik global, radio komunitas lokal justru tetap bertahan…
Radio Senda 1680 - Radio Senda 1680 mengudara sebagai radio komunitas yang menghadirkan lagu rohani inspiratif untuk masyarakat lokal yang…
Radio Senda 1680 - Radio komunitas lokal mengambil peran strategis dalam menyebarkan pesan kedamaian Kristen Protestan di berbagai wilayah. Melalui…